Sabtu, 27 Februari 2016

Gara-gara Kantong jadi Banyak Omong


Oleh : Nanae Zha

Lho, ada apa sih dengan kantong?

Berdasarkan kebijakan pemerintah bertepatan dengan Hari Sampah Nasional 21 Februari 2016 mengenai penggunaan plastik yang saat ini telah menjadi sorotan Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Jadi, di beberapa pusat belanja mulai diberlakukan plastik berbayar, yang meliputi: Banda Aceh, Medan, Pekanbaru, Palembang, DKI Jakarta, Bandung, Tangerang, Bekasi, Depok, Bogor, Semarang, Solo, Surabaya, Yogyakarta, Banjarmasin, Balikpapan, Makassar, Denpasar, Kendari, Ambon, Jayapura, dan Papua.
 Wah, ternyata Cianjur belum termasuk, ya? Tanggapannya bagaimana nih, warga Cianjur? Bersyukur atau bagaimana, ya?

Apa hubungannya Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan dengan plastik berbayar? Dan kenapa harus bayar?

Nah, menurut info dan data statistik LHK, Indonesia merupakan negara kedua yang memiliki timbunan sampah terbanyak ke laut setelah Tiongkok. What?
Padahal tahu, kan, efek plastik?
1.  Berbahaya bagi kesehatan, apalagi beberapa kantong berbahan kimia tinggi yang digunakan untuk kemasan makanan.
2.      Mencemari lingkungan. Ayo! Mulai sadar diri, siapa yang suka buang sampah sembarangan?
3.      Butuh ratusan tahun untuk menguraikannya.
Sampai adanya kantong yang ramah lingkungan. Berarti tugas pemerintah juga mengsosialisasikan hal ini kepada pabrik-pabrik untuk memproduksi yang ramah lingkungan. Sudah adakah atau memang diabaikan?
Oleh sebab itu, diberlakukan plastik berbayar agar masyarakat paham betul untuk menggunakan plastik sesuai kebutuhan saja demi mengurangi timbunan sampah yang tidak perlu. Mungkin juga pemerintah paham, bahwa warga Indonesia sangat sensitif dengan yang namanya duit ha-ha-ha ....

Jadi, berapa harga yang harus kita bayar?



Sesuai Surat Edaran Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor S. 1230/PSLB3-PS/2016 tentang Harga dan Mekanisme Penerapan Kantong Plastik  berbayar sebesar Rp. 200,00. Namun, beberapa informasi dari berbagai kota-kota malah ada yang menerapkan sampa Rp. 5.000,00

Terus uangnya dipakai buat apa?

Uang dari hasil plastik berbayar ini akan digunakan untuk menanggulangi masalah lingkungan terutama sampah, pemerintah akan bekerja sama dengan beberapa pihak bisa jadi komunitas peduli sampah dan lingkungan hidup akan diajak turut serta.

Yakin? Uangnya akan digunakan dengan tepat, bukan untuk mencari keuntungan pihak tertentu?

Ya, beginilah banyaknya pola pikir masyarakat kita. Begitu sensitifnya mengenai uang sehingga hanya sedikit ruang untuk berpikir positif. Kepercayaan yang dibangun seringkali dikhianati jadinya seperti ini. Kedzaliman pemerintah yang seringkali korupsi dibayar pula dengan kedzaliman masyarakat yang sulit percaya lagi kepada pemerintah he-he-he ....
Namun, alangkah indahnya hidup dengan prasangka baik. Toh, jika nantinya pemerintah ternyata tidak amanah akan ada balasannya. Wuiihhh ... berasa bijak banget :D

Bagaimana dengan respons masyarakat Indonesia mengenai ini?

Tentu saja menuai pro-kontra seperti yang saya sampaikan di atas. Tidak sedikit yang mendukung, namun juga banyak yang menolak. Mulai dari konsumen yang merasa terdzalimi sampai pedagang kecil yang khawatir kena imbas cuma gara-gara harus membayar kantong, apalagi para pengusaha.

“Masyarakat jangan dibebani lagi dengan kantong yang harus dibayar? Cukup dengan harga sembako yang semakin naik dan BBM yang susah turun.”

“Kalau saya, sih, setuju saja apalagi niatnya untuk menjaga lingkungan, uang Rp. 200,00 belum seberapa jika bisa lebih dari itu, biar pengguna juga mikir untuk lebih bijak menggunakan plastik.”

“Kalau masalah sampah yang menggunung harusnya pemerintah punya solusi dong, bukannya menambah beban. Memberlakukan membeli plastik juga belum tentu mengurangi masalah.”

“Masalah sampah bukan hanya pemerintah, tapi seluruh aspek lingkungan yang harus peduli dan saling menjaga. Saya sih, setuju!”

“Pemerintah baiknya juga memberikan pembinaan kepada masyarakat mengenai penggunaan kantong yang tidak terpakai harus diapakan? Bagaimana cara menanggulanginya, ada pelatihan  untuk menguraikannya.”

“Halah, banyak kerjaan! Kami tidak akan sempat, itu tugas PPSU kan kami sudah bayar!”

"Sudah kalau gitu, tutup saja pabrik pembuat plastik!"

Braakkk!
Meja digebrak akhirnya gontok-gontokkan. Hempthh ... Indonesia L

Bagaimana dengan negara lain?

Di beberapa negara maju, hal ini tidak menjadi masalah karena ternyata mereka telah memberlakukan ini sudah lama. Indonesia mah baru juga ujicoba ramainya luar biasa. :D
Jerman
Tahun 1991 pemerintah telah mengeluarkan aturan tentang pengemasan. Jadi, produsen plastik tidak hanya dituntut untuk memproduksi namun juga memikirkan bagaimana limbah sampah bekas konsumen. Maka, dibentuklah organisasi non-profit DSD yang bertugas untuk mengumpulkan, memilah sampah, menangani hingga mendaur ulang.
Swedia
Ini negara cukup unik karena mereka malah mengimpor sampah dari negara tetangganya. Untuk apa? Untuk diubah menjadi energi WTE (Waste To Energy) yang kini telah berhasil mengubah 2juta ton sampah menjadi energi panas dan listrik yang dialirkan ke rumah-rumah penduduk.
Jepang
Jepang menggolongkan sampah menjadi empat jenis :
Ø  Sampah bakar : sisa makanan
Ø  Sampah non-bakar : sejenis plastik
Ø  Sampah daur ulang : karton, kertas, kaleng, botol, dll
Ø  Sampah ukuran besar : furniture, kasur bekas, elektronik bekas
Kemudian didaur ulang atau diubah menjadi energi-energi yang bermanfaat.

Kalau saya pribadi bagaimana?

Saya orang yang peduli lingkungan, tapi juga kritis terhadap aturan. Sebagai pecinta lingkungan tentu saja saya mendukung peraturan ini. Di luar apakah nantinya uangnya akan dikorupsi, dengan sistem seperti ini apa akan mengurangi masalah sampah? Wallahu ... hanya mencoba menjadi warga yang baik saja, setiap kebijakan memang awalnya selalu menuai pro-kontra. Tidak akan berubah suatu kaum jika kaum itu tidak mengubahnya.

Jika perubahan pada hal yang lebih positif mengapa tidak? Di sini yang berperan bukan hanya pemerintah, namun dibutuhkan dukungan juga dari seluruh lapisan masyarakat. Baik sebagai pelaku industri yang sering menyumbang limbah dalam jumlah besar, juga masyarakat kecil yang mulai peduli untuk tetap menjaga lingkungan.
Semoga warga Indonesia semakin sadar bahwa bukan hanya sampah masyarakat yang perlu dibenahi, namun sampah kecil yang jelas terlihat oleh mata.

Cianjur, 28 Februari 2016

#GoGreen_Indonesia
#PecintaAlam

  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar