Fakultas Sastra di Cianjur - Saat ini sastra merupakan bidang ilmu yang mulai diminati pelajar di Indonesia. Untuk mendapatkan pendidikan terbaik, maka kita harus pintar mencari informasi universitas dengan fakultas sastra terbaik terutama di Cianjur. UNPI (Universitas Putra Indonesia) menyediakan tenaga ahli di bidangnya untuk memajukan pendidikan di Cianjur sebagai bagian untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.
My Little Town
Sejuta cerita tentang kota kecilku
Rabu, 07 Maret 2018
Minggu, 06 Maret 2016
Oase di Jantung Kota Cianjur
Oleh : Nanae Zha
Setelah sepekan
sibuk dengan rutinitas kerjaan, yeaayy ... ini waktunya istirahat, santai, atau
berkunjung ke beberapa kawasan rekreasi. Nah, saat ini saya ingin sedikit
mengajak teman-teman ke Taman Baca Alun-alun Cianjur. Wuiiihhh ... adem
bawaannya kalau sudah ke tempat ini.
Alun-alun Cianjur
bisa menjadi alternatif jika ingin sekadar melepas penat. Cukup menarik, berkumpul dengan teman-teman atau keluarga juga boleh. Lokasi yang strategis di
tengah jantung kota ini bagai oase, hawa panas yang melingkupi daerah sekitar
terasa lebih adem dengan adanya taman ini. Di belakang dulunya pasar, tapi
sekarang dibongkar karena kawasan ini jadi sangat rawan macet. Di samping kiri
tepat berdiri gedung Pemda Cianjur. Di depan berdiri megah Masjid Agung
Cianjur. Jadi, setiap mendengar azan kami berbondong-bondong memasuki masjid.
Alhamdulillah ....
Awalnya taman ini
merupakan lapangan upacara yang digunakan Pemda dalam upacara nasional. Namun,
karena banyak yang menyalah gunakan akhirnya tanah wakaf Siti Bodedar ini mulai
diserahkan pengelolaannya kepada pihak DKM Masjid Agung Cianjur.
Setelah diberi hak
dan wewenang penuh, akhirnya di taman kota itu didirikanlah taman baca sekitar
akhir Desember 2013. Hal ini agar membangkitkan minat baca bagi warga. Namun sayang,
saya pribadi kurang antusias dengan koleksi di taman baca tersebut. Karena
koleksi buku, kitab, atau majalah yang ada kurang variatif. Mungkin karena
pengelolanya DKM jadi lebih cenderung
dengan bacaan agama, fiqih tauhid, atau novel bergenre religi. Dan ini
pun sangat sedikit. Coba saja jika bangunan ditambah lebih luas, tempat membaca
dibuat lebih nyaman dengan varian buku lebih banyak. Novel bergenre remaja,
metropop, teenlit, sastra yang terbaru mungkin akan sedikit menambah minat.
Apalagi jika dilengkapi fasilitas wifi.
Sayang sekali tidak ada. Fasilitas tambahan seperti wifi bisa kapan pun. Berharap kalau nanti ada bisa dimanfaatkan dengan
baik dan bertanggab bagi pelajar, mahasiswa atau umum sesuai kepentingan, bukan untuk mengunduh situs-situs tidak
berguna.
Di depan taman baca
ada kolam air mancur, sayang juga karena katanya terlalu banyak menyedot
listrik akhirnya air mancur itu pun tidak pernah dinyalakan. Aku rapopo L
Berkeliling ke
setiap sudut taman merupakan kesenangan sendiri, berkumpulnya anak-anak remaja, sharing
tentang pelajaran, atau tempat berkumpul bagi beberapa komunitas tertentu,
mengaji bareng, one day one ayat. Ini
sangat menyenangkan meskipun kurang aktif karena kesibukan anggotanya.
Untuk kawasan duduk
yang jelas terpisah, seolah masyarakat buta membaca! Sudah jelas tertera tempat
duduk perempuan dan laki-laki berbeda, namun ada saja yang duduk tidak sesuai
aturan.
Satu lagi yang
membahayakan di kawasan ini. Jika Anda sendiri, atau berdua dengan teman.
Jangan coba-coba jika ada yang mengajak ngobrol, bukan suudzon hanya lebih
waspada saja. Karena beberapa kali saya sering mendengar kadang melihat dengan
mata sendiri, sering terjadi modus operandi. Orang-orang yang sok kenal,
mengaku pensiunanlah, atau mantan pejabatlah, atau siapa pun yang kadang
penampilannya meyakinkan ujungnya membicarakan bisnis atau menyangkut uang mohon
diwaspadai. Karena biasanya mereka mengajak bisnis, atau ujung-ujungnya berbau uang
dan lainnya hanya sebagai kedok penipuan. Apalagi Om-om tuh, banyak bapak-bapak sudah beruban yang nggak tahu umur malah L
Eits, tapi jangan
percaya juga sama ibu-ibu yang penampilannya elegan, kadang mereka juga sama.
Kalau anak-anak sekolah sih jarang jadi bahan incaran, biasanya objeknya orang
dewasa yang jelas punya duit, kalau anak sekolah mah susah kali, ya? Atau anak
mahasiswa juga ada, biasanya mereka bertanya, “Kerja atau kuliah, Neng?”
Klo dah ada
pertanyaan gini, mending bilang anak SMA deh. Maklum kan aku mah unyu badai,
masih bisa dikira anak SMA hahaha ... :D
Kembali ke topik
utama. Saya berkeliling ke pojok taman, sudah berasa di bamboo grooves-nya Kyoto, tiba-tiba bau pesing menyengat. Ya Allah
... ini mereka nggak bisa baca toilet kali ya L Padahal tepat di bawah ada toilet. Kalau
penuh, di Taman Baca juga ada. Petugas kebersihan kurang telaten dalam merawat
taman ini. Kesadaran warga untuk tidak membuang sampah sembarangan juga sangat
disayangkan.
Tapi walau
bagaimanapun taman ini cukup berhasil menyedot minat warga. Apalagi batu-batuan
kecil sepanjang jalan di taman, bisa digunakan untuk pengobatan rheumatik. Coba
berjalan sepanjang bebatuan itu. Tidak jarang melihat orang tua yang sengaja
membuka sandalnya lalu berkeliling sepanjang taman.
Well, aku sih merekomendasikan banget, kalau kapan-kapan kalian main ke
Cianjur jangan lupa berkunjung ke Taman Baca Alun-alun Cianjur. Meskipun
mendengar kabar bahwa taman ini akan dipindahalihkan fungsinya sebagai tempat
parkir masjid. Ah, sedihnya L Mungkin taman akan bergeser ke kawasan bekas
pasar. Entah kapan realisasinya. Terutama fasilitas umum yang jelas terlihat
oleh mata. Jalan-jalan umum yang bobrok mohon segera diperbaiki. Semoga Cianjur
semakin berkembang, bukan cuma janji tapi bukti!
Visit Cianjur, yuk!J
Sabtu, 27 Februari 2016
Gara-gara Kantong jadi Banyak Omong
Oleh : Nanae Zha
Berdasarkan kebijakan
pemerintah bertepatan dengan Hari Sampah Nasional 21 Februari 2016 mengenai penggunaan
plastik yang saat ini telah menjadi sorotan Kementrian Lingkungan Hidup dan
Kehutanan. Jadi, di beberapa pusat belanja mulai diberlakukan plastik berbayar,
yang meliputi:
Banda Aceh, Medan,
Pekanbaru, Palembang, DKI Jakarta, Bandung, Tangerang, Bekasi, Depok, Bogor,
Semarang, Solo, Surabaya, Yogyakarta, Banjarmasin, Balikpapan, Makassar,
Denpasar, Kendari, Ambon, Jayapura, dan Papua.
Wah, ternyata Cianjur belum termasuk, ya?
Tanggapannya bagaimana nih, warga Cianjur? Bersyukur atau bagaimana, ya?
Apa hubungannya Kementrian
Lingkungan Hidup dan Kehutanan dengan plastik berbayar? Dan kenapa harus bayar?
Nah,
menurut info dan data statistik LHK, Indonesia merupakan negara kedua yang
memiliki timbunan sampah terbanyak ke laut setelah Tiongkok. What?
Padahal
tahu, kan, efek plastik?
1. Berbahaya bagi kesehatan, apalagi beberapa kantong berbahan
kimia tinggi yang digunakan untuk kemasan makanan.
2.
Mencemari lingkungan. Ayo! Mulai sadar diri, siapa yang suka
buang sampah sembarangan?
3.
Butuh ratusan tahun untuk menguraikannya.
Sampai
adanya kantong yang ramah lingkungan. Berarti tugas pemerintah juga mengsosialisasikan
hal ini kepada pabrik-pabrik untuk memproduksi yang ramah lingkungan. Sudah
adakah atau memang diabaikan?
Oleh
sebab itu, diberlakukan plastik berbayar agar masyarakat paham betul untuk
menggunakan plastik sesuai kebutuhan saja demi mengurangi timbunan sampah yang
tidak perlu. Mungkin juga pemerintah paham, bahwa warga Indonesia sangat
sensitif dengan yang namanya duit ha-ha-ha ....
Jadi, berapa harga yang
harus kita bayar?
Sesuai
Surat Edaran Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor S.
1230/PSLB3-PS/2016 tentang Harga dan Mekanisme Penerapan Kantong
Plastik
berbayar sebesar Rp. 200,00. Namun, beberapa informasi dari berbagai kota-kota malah
ada yang menerapkan sampa Rp. 5.000,00
Terus uangnya dipakai buat
apa?
Uang
dari hasil plastik berbayar ini akan digunakan untuk menanggulangi masalah
lingkungan terutama sampah, pemerintah akan bekerja sama dengan beberapa pihak bisa
jadi komunitas peduli sampah dan lingkungan hidup akan diajak turut serta.
Yakin? Uangnya akan
digunakan dengan tepat, bukan untuk mencari keuntungan pihak tertentu?
Ya, beginilah banyaknya pola pikir
masyarakat kita. Begitu sensitifnya mengenai uang sehingga hanya sedikit ruang
untuk berpikir positif. Kepercayaan yang dibangun seringkali dikhianati jadinya
seperti ini. Kedzaliman pemerintah yang seringkali korupsi dibayar pula dengan
kedzaliman masyarakat yang sulit percaya lagi kepada pemerintah he-he-he ....
Namun, alangkah indahnya hidup dengan
prasangka baik. Toh, jika nantinya pemerintah ternyata tidak amanah akan ada
balasannya. Wuiihhh ... berasa bijak banget :D
Bagaimana dengan respons
masyarakat Indonesia mengenai ini?
Tentu saja menuai pro-kontra seperti
yang saya sampaikan di atas. Tidak sedikit yang mendukung, namun juga banyak
yang menolak. Mulai dari konsumen yang merasa terdzalimi sampai pedagang kecil
yang khawatir kena imbas cuma gara-gara harus membayar kantong, apalagi para
pengusaha.
“Masyarakat jangan dibebani
lagi dengan kantong yang harus dibayar? Cukup dengan harga sembako yang semakin
naik dan BBM yang susah turun.”
“Kalau saya, sih, setuju saja apalagi niatnya
untuk menjaga lingkungan, uang Rp. 200,00 belum seberapa jika bisa lebih dari
itu, biar pengguna juga mikir untuk lebih bijak menggunakan plastik.”
“Kalau masalah sampah yang menggunung harusnya pemerintah punya solusi dong, bukannya menambah beban. Memberlakukan membeli plastik juga belum tentu mengurangi masalah.”
“Masalah sampah bukan hanya pemerintah, tapi seluruh aspek lingkungan yang harus peduli dan saling menjaga. Saya sih, setuju!”
“Pemerintah baiknya juga memberikan pembinaan kepada masyarakat mengenai penggunaan kantong yang tidak terpakai harus diapakan? Bagaimana cara menanggulanginya, ada pelatihan untuk menguraikannya.”
“Halah, banyak kerjaan! Kami tidak akan sempat, itu tugas PPSU kan kami sudah bayar!”
"Sudah kalau gitu, tutup saja pabrik pembuat plastik!"
Braakkk!
Meja digebrak
akhirnya gontok-gontokkan. Hempthh ... Indonesia L
Bagaimana dengan negara lain?
Di beberapa negara
maju, hal ini tidak menjadi masalah karena ternyata mereka telah memberlakukan
ini sudah lama. Indonesia mah baru juga ujicoba ramainya luar biasa. :D
Jerman
Tahun 1991
pemerintah telah mengeluarkan aturan tentang pengemasan. Jadi, produsen plastik
tidak hanya dituntut untuk memproduksi namun juga memikirkan bagaimana limbah
sampah bekas konsumen. Maka, dibentuklah organisasi non-profit DSD yang
bertugas untuk mengumpulkan, memilah sampah, menangani hingga mendaur ulang.
Swedia
Ini negara cukup
unik karena mereka malah mengimpor sampah dari negara tetangganya. Untuk apa?
Untuk diubah menjadi energi WTE (Waste To Energy) yang kini telah berhasil
mengubah 2juta ton sampah menjadi energi panas dan listrik yang dialirkan ke
rumah-rumah penduduk.
Jepang
Jepang
menggolongkan sampah menjadi empat jenis :
Ø Sampah bakar : sisa makanan
Ø Sampah non-bakar : sejenis plastik
Ø Sampah daur ulang : karton, kertas, kaleng,
botol, dll
Ø Sampah ukuran besar : furniture, kasur bekas,
elektronik bekas
Kemudian didaur ulang atau diubah menjadi energi-energi yang bermanfaat.
Kalau saya pribadi bagaimana?
Saya orang yang
peduli lingkungan, tapi juga kritis terhadap aturan. Sebagai pecinta lingkungan
tentu saja saya mendukung peraturan ini. Di luar apakah nantinya uangnya akan
dikorupsi, dengan sistem seperti ini apa akan mengurangi masalah sampah? Wallahu ... hanya mencoba menjadi warga
yang baik saja, setiap kebijakan memang awalnya selalu menuai pro-kontra. Tidak akan berubah suatu kaum jika kaum itu
tidak mengubahnya.
Jika perubahan pada hal yang lebih positif mengapa tidak? Di sini yang berperan bukan hanya pemerintah, namun dibutuhkan dukungan juga dari seluruh lapisan masyarakat. Baik sebagai pelaku industri yang sering menyumbang limbah dalam jumlah besar, juga masyarakat kecil yang mulai peduli untuk tetap menjaga lingkungan.
Semoga warga
Indonesia semakin sadar bahwa bukan hanya sampah masyarakat yang perlu dibenahi,
namun sampah kecil yang jelas terlihat oleh mata.
Cianjur, 28 Februari 2016
#GoGreen_Indonesia
#PecintaAlam
Surat Cinta Dibalas dengan Blokir
by : Nanae Zha

Jadi, beberapa waktu lalu saya membuat surat “Cinta”
kepada pencipta sebuah aplikasi jejaring sosial. Melihat betapa banyaknya warga
Indonesia yang mudah sekali terpengaruh berbagai berita, apalagi medsos
merupakan bagian dari gaya hidup masyarakat saat ini. Saya tergerak ingin juga
memberi sedikit pendapat, mengeluarkan isi hati berupa surat pernyataan tentang
kekecewaan saya terhadap kebijaksanaan aplikasi tersebut yang mana tidak bisa
membedakan masalah HAM dan kebenaran yang harus ditegakkan.
Saya pun menulisnya dengan bahasa Sunda. Iya, bahasa
Sunda yang sangat belepotan, tapi mendapat apreasiasi yang luar biasa dari
sistem kebijakan aplikasi tersebut. Akhirnya, setelah 12 jam pemostingan,
sampai detik ini saya tidak bisa membuka aplikasi tersebut. Beberapa kali
memasukkan email, dan password malah meminta sandi baru yang
di-verifikasi sebagai proteksi.
Inilah isi surat saya :
Kahatur Kakang MarkZuk
Wilujeng wengi, Kang. Kumaha damang? Mugia dipaparin
kasehatan salawasna. Sateuacan neraskeun ieu serat, nyuhunkeun dihapunten bilih
aya laku lampah nu teu merenah, reka basa nu pasalia. Munggaran tahun 2008
ngadamel akun pesbuk, hatur nuhun tos aya kana tujuh taunna panginten janten
bagean ti kulawargi pesbuk.
Leres pisan, ku abdi mah pesbuk teh aya karaosna. Boh
mangpaatna boh kaawonanna. Alhamdulillah, ku aya na pesbuk tiasa nepangkeun rencang nu engal,
sareng deuih tiasa meungkeut pageuh tali silaturahmi nu tos lami teu tepang
raray. Kitu deui, teu sakedik geuning pesbuk teh janten wadah kanggo nampung
sagala eusi hate nu teu tiasa kedal ku tutur. Tina dakwah dugi ka ghibah sagala
aya. Keun we da jalmi mah rupa-rupa, kantun milih bade nyandak jalan anu mana.
Mung, abdi teh asa teu raos manah. Kusabab isu nu janten
pro-kontra sadunya. Tos terang panginten? Tah, nu eta tea! Isu “elgebete” nu
tos janten trending topic dina layar kaca sareng medsos wara-wiri. Kukituna
abdi rumaos ringrang ku jaman nu beuki edan. Seueur rerencangan anu nolak LGBT
akunna bet di-banned ku pesbuk? Naha, Kang?
Anjeun jalma nu luhur ku elmu, hanjakal teu dibarengan
elmu agama. Ningal tina kacasoca HAM. Upami uih deui kana HAM. Teu emut yen
ngaluarkeun pendapat salah sahiji hak anu tos diakui undang-undang? Cik, atuh
tingal dampak panjangna. Naha seueur nu teu panuju, naha agama ngaHARAMkeun
hukumna?
Kang, Mark. Anjeun gaduh putra sanes? Aiihh ... asa
kulucu murangkalih nu kapayunna janten panerus katurunan. Tah, kumaha jantenna
pami putra anjeun milih jalan LGBT? Bakal pareum harepan kanggo neraskeun getih
nu bakal ngalir dugi ka putu-putu.
Atuh kapayunna bakal rea, pernikahan dua agama di
sahkeun? Sah di soca saha? Jalmi. Keukeuh nurutkeun kana agama mah zina. Kitu
tea mah abdi ge sanes jalma suci, mung hoyong silih rojong ngemut kana kasaean.
Da jalan dakwah teh teu gampang, loba nu salah, hese istiqomah.
Kusabab di dunya teh bakal seueur istri dibanding
pameget, katambihan ku panyakit nu diantep. Beuki ngirangan we jodo teh. Kumaha
nasib mojang, jajaka anu teu acan gaduh pasangan? Maenya kudu “jeruk makan
jeruk” mah. Naudzubillah ....
Atanapi tumut wae kana poligami?
#emprak sigana pameget mah
LGBT teh penyimpangan seksual, moal jaya katurunannana
pami sanes tina penularan. Tiasa wae eta teh tina trauma, tina lingkungan nu
teu hade. Ayeuna mah geura mulang ka jalan nu bener. Konsultasi ka psikolog,
ustad, komo nu pasti na mah ka Allah. Ngadua, salat, ikhtiar pasti bisa asal
aya niat. Emut! Eta mah lain soal hak asasi manusia, tapi soal panyakit anu
insya Allah aya ubarna.
Ah, ieu mah sakadar ngaluarkeun eusi hate.
Mangga salajengna nyanggakeun sadaya-daya ka Kakang Mark
bilih bade ngablokir.
Abdi muslim, sanes teroris, kulantaran nentang keras LGBT
berkembang.
Mugi dipaparin kasadaran ka jalmi nu tos hilap kana iman.
Saketik bawaning ati, saraksa bawaning beja.
Kolepat lir bawaning kilat.
Kahatur tina kecap anu luhung, baris nyampak hapunten anu
kasuhun.
Cekap sakitu nu kapihatur. Mugi Kakang ngartos kana
sagala pamaksadan.
Pami teu ngartos. Ngacungnya! :D
Ya, begitulah isi suratnya. Saya telah membaca
banyak bahwa beberapa akun teman-teman bahkan penulis ternama pun di-banned karena mereka kerap menolak
sebuah isu yang kini berkembang di masyarakat. Isu mengenai LGBT. Sudah banyak masalah ini
dibahas, saya pun sudah bosan membacanya. Namun, bukan masalah kebosanan dengan
info yang sama melainkan untuk saling mengingatkan betapa buruknya keimanan
kita.
Dengan meminta pelegalan atau kebebasan bukan berarti beres perkara. Ingat! Tentang kisah Nabi Luth? Zaman ini telah kembali ke masa itu, masa jahiliyah! Saya sebagai muslim tentu saja merasa miris dengan kasus ini. Ini bukan masalah HAM, tapi lunturnya iman. Zaman semakin berkembang kok ya malah makin edan.
LGBT adalah penyakit, penyimpangan seksual yang masih bisa diobati jika ada niat. Tugas kita sesama muslim untuk saling mengingatkan. Saya seorang perempuan, calon ibu yang nantinya akan melahirkan generasi penerus yang berakhlakul karimah. Tentu saja, dengan isu ini membuat saya semakin khawatir.
- · Pertama, saya muslim bukan teroris! Yang dengan sederhana menentang golongan LGBT bukan tidak menghargai HAM. Melainkan peduli pada bangsa, Peduli pada nasib anak cucu saya kelak, pada generasi muda dunia. Peduli akan keberlangsungan hidup manusia, peduli pada mereka yang telah salah jalan.
- · Kedua, saya perempuan yang belum menikah! (Plak! Ini curcol, Nae! :D)
Mengingat hal itu, saya sedih. Apakah calon imam yang belum kunjung datang berada dalam golongan mereka? Naudzubillah ... jangan sampai, deh!
Atau dengan perbandingan jumlah penduduk dunia bahwa perempuan lebih banyak dari laki-laki, menjadi kesimpulan bahwa poligami menjadi pilihan yang bijak? Huuaaa ... tidaakkk! Ini adalah keresahan hati gadis single. Please! Jangan membuat masalah lebih kompleks dengan adanya golongan yang semakin mempersulit jodoh. Karena golongan mereka tidak akan bertambah melalui keturunan melainkan penularan.
Calon imamku, tetap istiqomah di jalan Allah ya J Yakin, kamu adalah seseorang yang sedang mempersiapkan diri menjadi lebih baik. Sebut aku dalam doamu, semoga kita segera dipertemukan. Aamiin J
#YukHijrah
#DakwahMudah_IstiqomahSusah
Senin, 27 April 2015
Ada Apa Dengan BPJS di Cianjur???
posted
by : Nanae Zha
Beberapa hari yang
lalu, saya membaca berita di info Cianjur bahwa sebagian besar karyawan dari
beberapa perusahaan Cianjur belum mendaftarkan diri sebagai peserta BPJS.
Seperti yang saya kutip dari Antaranews.com.
“Seharusnya
ini merupakan kewajiban perusahaan yang tertuang di dalam Undang-undang Nomor
24 tahun 2011 Tentang Badan Penyelengara Jaminan Sosial (BPJS) yang intinya
setiap perusahaan wajib terdaftar di BPJS Kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan
per 1 Januari 2015,” kata Kepala Cabang Perintis BPJS Ketenagakerjaan Cianjur,
Drajat Heryatna, di Cianjur, Jumat.
Menanggapi berita tersebut, saya ingin menyampaikan pendapat
yang semoga menjadi bahan perbaikan dan pertimbangan demi kesejahteraan masyarakat
tanpa bermaksud menyudutkan salah satu pihak. #edisi bijak .... J
Apa
sih BPJS?
BPJS adalah Badan
Penyelenggara Jaminan Sosial. Dengan
membawa misi memberikan perlindungan yang layak bagi tenaga kerja, menjadi
mitra terpercaya untuk memberikan perlindungan kepada tenaga kerja dan
meningkatkan produktivitas bagi pengusaha, dan bagi negara ikut berperan serta
dalam pembangunan.
Filosofi
BPJS Ketenagakerjaan dilandasi filosofi kemandirian dan harga diri untuk mengatasi
risiko sosial ekonomi.
-
Kemandirian berarti tidak tergantung orang lain dalam
membiayai perawatan pada waktu sakit, kehidupan dihari tua maupun keluarganya
bila meninggal dunia.
-
Harga diri berarti jaminan tersebut diperoleh sebagai
hak dan bukan dari belas kasihan orang lain.
Agar pembiayaan dan manfaatnya optimal, pelaksanaan program BPJS
Ketenagakerjaan dilakukan secara gotong royong, di mana yang muda membantu yang
tua, yang sehat membantu yang sakit dan yang berpenghasilan tinggi membantu
yang berpenghasilan rendah.
Sebagai warga Cianjur dan juga karyawan di sebuah perusahaan swasta, sangat
menyesal dan menyayangkan hal ini. Mengapa BPJS tidak mendapat respon yang
bagus dari pekerja dan pengusaha? Padahal ini demi kesejahteraan masyarakat
dalam mendapatkan pelayanan kesehatan yang lebih baik. Namun, sebelum men-judge kesalahan sebuah perusahaan
sebaiknya dicari dulu apa yang menjadi permasalahan dalam perekrutan peserta
BPJS.
1.
Apakah info yang diberikan kepada karyawan dan
perusahaan sudah optimal sehingga tidak ada keraguan bagi karyawan untuk
menjadi peserta BPJS?
2.
Apakah ada unsur pressure
dari pihak perusahaan atau pihak lain kepada karyawan?
3.
Ataukah mungkin dari karyawannya sendiri yang menolak
menjadi peserta?
4.
Atau mungkin BPJS dianggap tidak memberi keuntungan
kepada karyawan?
Ada banyak
kemungkinan dan alasan karyawan masih meragukan BPJS. Kenapa? Ini bukan tanpa
ada alasan.
Beberapa
waktu lalu, perusahaan tempat saya bekerja telah berulang kali menerangkan
kepada karyawan dan diskusi dengan perwakilan BPJS. Namun, kami sebagai
karyawan masih belum bisa memahami, masih banyak pertanyaan yang belum mendapat
jawaban memuaskan. Hingga akhirnya dari dinas sosial dan tenaga kerja serta
perwakilan dari BPJS Sukabumi meminta bukti surat pernyataan penolakan. Dan di
sinilah akan saya kupas beberapa alasan keraguan karyawan menggunakan BPJS.
Saya sebagai warga negara yang mencoba baik dan patuh dengan peraturan
hukum dan perundang-undangan, bukan menolak atau mengabaikan undang-undang yang
berlaku. Dan kami membuat surat pernyataan tersebut dengan kesadaran tanpa ada
paksaan.
Adapun point-point yang menjadi alasan keberatan kami saat itu adalah :
1. Di
perusahaan saya telah memiliki sistem kesehatan yang jauh lebih baik daripada
BPJS, dengan sistem reimbes (klaim). Perusahaan saya memiliki empat dokter yang
ditunjuk sebagai dokter pribadi( tiga dokter umum, satu dokter gigi) dengan
tetap bisa memberi surat rujukan ke rumah sakit untuk beberapa kasus tertentu.
Selama sistem ini berjalan, kami
merasa nyaman dan mendapatkan pelayanan yang jauh lebih baik. Dengan
obat-obatan yang berkualitas, bahkan untuk operasi besar sekalipun, berapa pun
biayanya no limit cuy ... makanya
saya bangga banget dengan perusahaan saya :D
sedangkan BPJS kebanyakan adalah
obat generik dan pelayanan seadanya. L
2. Pelayanan dan
fasilitas kesehatan di RSUD Cianjur tidak memuaskan.
Menurut saya yang bermasalah
sebetulnya bukan BPJS, namun pelayanan kesehatan di wilayah Cianjur yang sangat
tidak memuaskan. Berdasarkan pengalaman orang lain dan tentunya saya sendiri,
berkali-kali mendapatkan pelayanan yang buruk dari perawat rumah sakit Cianjur.
(Mungkin sebaiknya selain mereka di tes tentang kesehatan, tolong jajaran pihak
RSUD juga mengetes attitude serta
ajari perawat untuk tersenyum J, kok malah dokter yang jauh lebih
ramah daripada perawat?)
Ada saudara saya tinggal di Bandung,
beliau mengidap penyakit diabetes kronis. Untuk kawasan kota besar, mungkin tidak diragukan kinerja BPJS yang pelayanannya
cukup baik. Tidak membeda-bedakan pasien, baik pengguna maupun umum(non-BPJS)
tetap memiliki hak yang sama.
Ini bedanya di Cianjur ... kakeknya
Novi (siapa Novi? Nggak penting haha ...) kemarin sakit nih, pas mau dirawat
dan bilang pengguna BPJS mereka bilang ruangan sudah penuh. Ternyata setelah
diperiksa sendiri, ada beberapa ruangan yang kosong, pas bilang ya udah bayar
pake umum, eh mereka menyediakan. What
the hell?! ... maaf ya RSUD Cianjur atas kejujuran saya, semoga menjadi
perbaikan buat kedepannya. Karena pada dasarnya rumah sakit bertujuan untuk
menyelamatkan banyak nyawa bukan mencari materi doang. Saya juga sama, karena
harus berjibaku dengan obat-obatan sebagai pekerja di bidang farmasi. J
3.
Prosedur peserta BPJS ribet dan kualitas obat yang
diberikan kurang berkualitas.
Beberapa hari yang lalu, saya
berobat ke rumah sakit setelah rujukan dari dokter. Ternyata untuk daftar ke rumah
sakit di Cianjur pukul 7 pagi saja nomor antrian sudah mencapai 408. Saya
sempat bertanya kepada seorang yang duduk bersebelahan, katanya dia sudah
datang dari jam 4 subuh untuk mendapat nomor antrian biar lebih cepat. Tapi
kenyataannya, saya pasien umum mendapatkan pelayanan lebih dulu daripada peserta
BPJS.
Berdasarkan wawancara kepada salah
satu peserta BPJS... #halah sempat ya padahal lagi sakit :P
Ternyata prosedur peserta BPJS cukup
ribet, selain harus daftar di ruang pendaftaran mereka pun harus antri dua kali
dibagian BPJS untuk mendapat surat atau formulir apalah ... apalah ... :P
hingga mereka harus berdempetan memenuhi koridor di bagian BPJS. Makin males
deh ....
Untuk beberapa obat yang harusnya
bisa ditebus di apotek rumah sakit, ternyata beberapa kali pihak apotek selalu
berdalih bahwa stok obat habis, What?!
Saat itu, saya harus mengkonsumsi Azol yang berdasarkan HET-nya 480ribu. Hello??? Ini rumah sakit masa iya obatnya
habis, sedangkan di apotek luar aja berserakan.
Fiuuhh ... ini
pertanyaan bagi saya, kok untuk beberapa obat yang harganya cukup besar kenapa
dibatasi. Akhirnya kebanyakan pasien membeli obat lagi dari luar. Nah, apakah
ada penggantian dari pihak BPJS untuk pembelian obat di apotek luar? PR nih ...
J
4. Kartu BPJS
tidak fleksible.
Andai saja kartu BPJS lebih fleksible digunakan di manapun di
seluruh Indonesia, tentu akan lebih memudahkan masyarakat untuk memilih berobat
yang membuat mereka nyaman. Kenyataannya orang yang sakit itu tidak selamanya
cocok dengan satu dokter yang ditunjuk, atau kalau pun pilihannya harus ke
rumah sakit, maka pelayanan rumah sakit yang menomor duakan pengguna BPJS itu sangat disayangkan.
5. Tidak
ada jaminan jangka panjang dan hari tua.
Oke! Visi dan misi BPJS
tentang kemandirian dan harga diri. Tapi, sayangnya ternyata kartu BPJS ini tidak
ada jaminan jangka panjang dan hari tua.
Misalnya nih, saya
bekerja sebagai karyawan kontrak, dikontrak selama satu tahun, selama itu saya
bayar BPJS, nah ... ketika habis kontrak dan belum mendapatkan kerja dan tidak
bisa membayar ternyata kartu BPJS tidak bisa digunakan. Terus berarti jadi turun
kelas dari pekerja menjadi masyarakat umum, dari kelas 2 jadi kelas 3 jika tidak
mendapat kerja lagi?
Hal-hal seperti ini
masih menjadi pertanyaan, mending ya kalau PNS karena masih menerima dana
pensiun. Kalau kami? Dipikir-pikir mending ikut asuransi bayar tiap bulan juga kaharti toh uangnya bisa dicairkan.
Bukan untuk menentang
undang-undang dan peraturan pemerintah. Namun, untuk sampai ke visi dan misi
agar tercapai sesuai dengan nama BPJS, Badan Penyelenggara Jaminan Sosial harus
bisa menjamin.
Sebaiknya dibenahi dulu
pelayanan dan sistem kerja terutama di kawasan Cianjur yang dirasa kurang
memadai. Jika jaminan dan kenyamanan itu ada, dan lebih baik daripada yang
dimiliki perusahaan (minimal pelayanan sama) tentu saja kami akan masuk sebagai
anggota dengan sukarela. Kami ingin mendapatkan pelayanan yang lebih baik,
bukan jadi turun standar dong ....L
Namun, itu beberapa
bulan lalu. Karena demi mematuhi perundang-undangan kami tentu harus mengikuti
aturan. Alhamdulillahnya, perusahaan saya memberi kebijakan.
“Selagi faskes Cianjur
belum memadai, maka sebagai karyawan tetap memiliki jaminan kesehatan dengan
sistem klaim dan BPJS.”
Wah, beruntungnya kami J
Ah, sudahlah curcol
saya kali ini menanggapi berita yang menyudutkan salah satu pihak terutama
perusahaan. Setahu saya, jika karyawannya belum masuk menjadi peserta, perusahaan
akan kena denda sebesar 1M, lebih parah adalah penutupan perusahaan. Sebagai
karyawan yang mendapat sumber mata pencaharian dari sana, merasa miris dengan
hal itu karena saya sendiri meragukan.
Semoga ini menjadi PR
bagi dinas kesehatan, sosial tenaga kerja atau yang terkait terutama pihak RSUD
Cianjur. Dan PR bagi BPJS untuk menyikapi masalah ini. Lagipula mengapa harus
diwajibkan jika kami merasa nyaman dengan faskes yang ada? Da anu wajib mah rukun iman & islam J
piss ah ...
Sumber filosofi BPJS : http://www.bpjsketenagakerjaan.go.id/
Langganan:
Komentar (Atom)











